Wednesday, March 8, 2017

Society Riweuh

Menurut kamus bahasa Inggris society artinya : masyarakat; perkumpulan; perhimpunan atau lembaga. Sedangkan kata riweuh asal kata bahasa Sunda yang menurut KBBI Online artinya adalah ribet, sama dengan rempong. Kenapa tema ini coba diangkat? Berawal dari keresahan saya sebagai masyarakat, society kita ini mudah bergejolak, mudah riuh dan mudah keruh dengan suatu fenomena sosial yang terjadi.

Taruhlah tentang berita Pilkada DKI yang berawal dari bola panas ucapan group petahana yang mulai membuat diferensiasi kita terlihat jelas. Ada dua kubu bermunculan dalam hal ini,  yakni society pro dan kontra. Keduanya riweuh mempertahankan argumen, bahkan sebagian society beraksi lewat demo akbar beberapa kali  hingga di buat hingar bingar meme yang turut memeriahkan keriuhan media sosial belakangan kemarin.

Menjelang seminggu kedatangan Raja Salman menjadi tranding topic media di tanah air, semua orang jika melihat berita di tv atau internet akan tertarik dengan riweuhnya persiapan menyambut tamu kenegaraan tersebut, betapa tidak karena baru kali ini hubungan bilateral antar bangsa menghadirkan tamu sebanyak 1500 orang, terlebih dalam 1500 orang tersebut terselip beberapa pangeran yang sudah santer diberitakan oleh media-media di Indonesia.

Tak hanya satu media yang membahas tentang ketampanan, kemapanan, bahkan kecerdasan pangeran pangeran itu. Serempak. ! Itulah yang bisa saya tangkap dari beberapa media yang sama sama mengangkat tema yang identik. Dengan memajang photo disertai berita yang mungkin dikutip dari media Arab langsung, sebelum kedatangan mereka (pangeran pangeran) telah di elu-elukan, bahkan kocaknya society kita ini rajin bikin meme (lagi). Hingga beberapa hari setelah raja tiba, barulah tersiar kabar bahwa photo- photo yang dianggap sebagai pangeran tersebut dinyatakan keliru karena ternyata dia adalah seorang aktor dari Pakistan.

Mereda isu tentang Raja Salman kini giliran isu kedatangan pendakwah terkenal Dr Zakir Naik yang juga sempat bersalaman dan bertemu dengan wapres. Kebetulan komikus Ernest Prakarsa mengkritisi kedatangan Dr Zakir lewat laman Twitternya dan  mengetweet bahwa Dr Zakir Naik salah satu orang yang mendanai teroris ISIS.  Karena tweetnya inilah banyak masyarakat yang terusik, wabilhusus umat muslim, ketersinggunan itulah yang merembet pada pemboikotan produk Iklan Tolak Angin hingga pihak dari Sido muncul sendiri harus memutus kontrak dengan yang bersangkutan. 

Dalam tiga kasus yang saya utarakan diatas berbeda-beda tetapi menuai reaksi yang gegap gempita, heboh, keras, pedas, bahkan beberapa kasus bisa dikatakan tega. Setiap manusia tidak pernah ada yang sempurna, akan ada selalu kekurangan, kehilafan yang menyertainya. Keberadaan media sosial dan media massa saat ini ibarat kompor dengan minyak tanah. Satu orang berbuat salah di media sosial siap-siap dia akan membakar habis dirinya sendiri.

Apakah ini merupakan sikap kritis atau cerdas? saya rasa sebelum kita mengkritisi sesuatu ada baiknya merefleksikan kekritisan tersebut dalam diri kita sendiri (bertabayun dalam islam) kalau perlu berdiskusi dengan orang yang lebih paham. Jangan sampai mereka yang tidak tahu bagaimana hukumnya, turut vokal dan ikut-ikutan sehingga yang harusnya di pandang wajar (toh namanya manusia banyak kekurangan) hingga sampai di pandang sangat hina hanya karena penilaian masyarakat yang entah itu mengarah kepada kebenaran atau tidak.

Sekarang ini peribahasa mulai berubah bukan lagi mulutmu harimaumu, tetapi jarimu harimaumu. Keriuhan yang terjadi diantara society ini bisa di hindari jika setiap masyarakat tidak bersikap riweuh. Ada banyak hal yang sebenarnya society kita harus  pikirkan ketimbang isu-isu yang merebak di media sosial. 

Sebagai masyarakat kita perlu belajar tentang bagaimana menanamkan kedewasaan, dan ketenangan berpikir. Sehingga apapun yang terjadi di sekitar kita lebih baik merenung terlebih dahulu hingga kemudian bersikap. Keriweuhan yang terjadi di masyarakat ini akan sangat tidak baik dampaknya apalagi untuk pendewasaan kita sebagai suatu masyarakat yang siap maju. Bukan kah adanya konflik atau perbedaan bukan sebagai tantangan? tapi sebagai bahan diskusi dan pemikiran bersama, sehinga satu sama lain bisa saling menyelaraskan dengan yang lainnya. 

Rasululloh dulu menyebarkan ajaran agama dengan halus, tanpa kekerasan. Ada baiknya kita dalam menyikapi apapun yang terkait agama kita pun dengan halus dan tutur kata yang baik. Agar tidak di cap hanya sekedar riweuh bahkan radikal. Wallohu alam. 
Reactions:

0 comments:

Post a Comment