Monday, November 14, 2016

FOKUS


Photo ini diambil saat penggalangan dana Himmaka Bandung di Jalan Soekarno Hatta Bandung pada 27 April 2013. Dengan F / 7.1. Exposure Time 1/13 sec. ISO 200. Mattering Mode : Pattern. 

Wednesday, November 9, 2016

Fatamorgana Penguasa Politik di Media Massa

Artikel tentang media yang di publish di kolom Mimbar Akademik Koran Pikiran Rakyat pada 13 Juli 2013

Menurut anda, media apa yang sekarang ini sangat dekat dengan kita? Radiokah, televisi, koran atau internet? Melihat perkembangan zaman sekarang semua media bisa menjadi sangat dekat dan sangat mudah di jangkau oleh setiap pemirsanya. Ini yang kemudian menjadi salah satu penyebab banyaknya orang beralih bisnis pada media massa. Lalu dari semua media di Indonesia tahukan anda berapa jumlahnya?

Dikutip dari laman berita IANN News (Indonesia Archipelago National Network News) pada 29 Mei 2013 bahwa jumlah media massa di Indonesia selama kurun waktu sepuluh tahun ke belakang dari 2010 sudah berjumlah 2000 media massa. Yang terdiri dari 1000 media cetak di seluruh Indonesia, 250 media televisi baik lokal ataupun nasional dan 750 gelombang radio. Dan itu belum lagi di tambah dengan media massa internet yang kini ada.
 
Jelas, sejak di bukakannya keran reformasi pada tahun 1999 oleh presiden ketiga Indonesia. Perkembangan media massa sangat menjamur seperti di musim hujan. Dan setiap tahunnya terus mengalami penambahan. Ini terjadi karena setiap pemilik modal terkadang melakukan konglomerasi media. Dimana mereka memiliki media lebih dari satu jenis. Mereka melakukan konvergensi media pada bisnisnya. 

Misalkan Abu Rizal Bakri selain memiliki perusahaan media Tv One tapi dia juga memiliki perusahaan televisi  ANTV dan media internet Viva News. Lalu kemudian Hary Tanoesodibyo yang memiliki beberapa stasiun televisi di bawah naungan MNC dan juga media onlinenya serta masih banyak lagi pengusaha lainnya yang memiliki media lebih dari 1 jenis.

Melihat fenomena ini masihkah media menjadi pilar ke empat demokrasi di Indonesia? Berdasarkan berita yang masih di peroleh dari IANN News, bahwa dari beribu-ribu media massa tersebut hanya 30 % yang sehat selebihnya bermasalah. Jika dilihat berdasarkan fungsi media sebagai sosial control tentu ini sangat bertentangan. Karena media di Indonesia belum sepenuhnya profesional dan independen.

Apalagi jika kita melihat fenomena sekarang, dimana banyak para pemilik media mulai melirik dunia politik. Sisi dari independenitas media akan terusik karena pastinya akan memihak pada pemilik modal. Berbagai bentuk agenda setting di lakukan oleh media, seolah-olah media tersebut layaknya tunggangan untuk mencapai posisi politik yang paling tinggi. 

Tahun pemilu nasional tinggal sebentar lagi. 2014 sudah hampir di depan mata. Dari sejak jauh-jauh hari sudah mulai banyak pemimpin partai politik sekaligus pemilik media mendeklarasikan diri sebagai presiden. Dengan kepemilikan media oleh mereka, tentu ini tidak akan pernah sehat bagi atmosfer demokrasi Indonesia. Anda bisa bayangkan, apa yang terjadi jika pemilik media tersebut menang dalam pemilu nasional? Secara otomatis medianya akan terangkat serta kemungkinan besar masyrakat akan mengakses berita dari media tersebut.

Pantas jika keadaan politik, ekonomi, keamanan Indonesia tidak pernah stabil. Informasi yang harusnya begitu mudah diperolah dan  dapat di buktikan kebenarannya. Kini seakan-akan informasi itu seperti boneka pinokio yang di gerakkan oleh pawangnya dari atas. kebiasan berita di media kita mulai dipertanyakan! Termasuk keidealisan para pekerja pemburu berita yang kini mulai mengekor pada pemilik modal.

Tidak hanya dilihat dari sisi media yang dimiliki oleh partai politik, tetapi menjelang pemilu ini juga masyarakat harus bisa memilih iklan-iklan yang hadir di media. Saat ini media yang dekat dengan semua lapisan masyarakat adalah televisi. Lewat audivisualnya televisi bisa saja mempengaruhi pandangan dari masyrakat dalam memilih pemimpinnya.

Yang terjadi bahwa apa yang ada di televisi bisa saja di dramatisir. Banyak pencitraan yang dilakukan oleh para aktifis politik untuk meraup hati rakyat. Dengan iklan seperti tayangan peduli banjir,  peduli gempa, pemberian santunan kepada anak yatim dan lain-lain. Seolah kini calon pemimpin itu citranya tergantung dari berita yang di sampaikan oleh media. Dan itu bisa menipu. 

Kita tahu bahwa pada tahun 2009 kemarin, presiden Susilo Bambang Yudhoyono menang dalam pemilu 2009 karena pengaruh iklan yang di tampilkan oleh televisi. Betapa seringnya bapak SBY muncul di hampir seluruh iklan di televisi. Dan berkat bantuan media dia bisa mendulang kesuksesan yang kedua kalinya menjadi presiden Indonesia. 

Tentu menjelang pemilu ini juga media tidak sepenuhnya bisa independen apalagi menyangkut profit yang akan di peroleh dari iklan yang di sematkan oleh para calon, karena biaya yang dikeluarkan oleh calon untuk iklan mereka di media itu lumayan memberikan sisi ekonomis bagi pelaku media massa. 

Ketika media menggembar-gemborkan para penguasa politik yang hanya dilihat dari segi pencitraannya, tidak dari karakter aslinya. Maka, ketika mereka memimpin semuanya akan sirna. Pencitraan itu sesungguhnya hanyalah semu, dan yang tertipu kembali hanyalah masyarakat luas.

Nampaknya keadaan dimana media berkuasa  harus dibatasi. Termasuk para pemilik media tersebut. Bagi kalangan berduit, apapun dapat dilakukan untuk mencapai apa yang diinginkan. Tetapi sebuah negara tidak berpihak hanya pada kalangan berduit saja, tetapi juga masih ada kalangan menengah ke bawah yang perlu disejahterakan. Ketika para calon bersuka cita dengan pencitraanya di media, yang terjadi nantinya adalah si miskin tetap saja miskin. Semuanya tidak mendatangkan pengaruh yang nyata.

Harus ada peraturan khusus yang di tegakkan mengenai kepemilikan media ini. Atau peraturan untuk tidak berpihaknya pada politik. Karena informasi yang benar merupakan hak setiap orang. Jangan sampai media dimanfaatkan oleh segelintir pihak yang ingin berkuasa. Lalu bagaimana langkah yang bisa diambil masyakarat melihat fenomena ini? Sesungguhnya fatamorgana sesaat ini harus di waspadai, masyarakat harus pintar memilih. Lihatlah calon pemimpin anda dari kehidupan aslinya, dari profil kesehariannya. Lalu bandingkan dengan pencitraanya di televisi. Jangan sepenuhnya percaya terhadap janji politik, pilihlah pemimpin dengan sangat selektif, demi Indonesia yang lebih baik.
 

 
 
 

Kearipan Lokal di Masyarakat Dukuh #Human-interest


Photo ini diambil di daerah Garut tepatnya di kampung islam Dukuh. Kampung ini masih sangat memegang teguh ajaran murni agama islam. Seperti layaknya kampung baduy di Banten, hanya jika baduy tidak memiliki agama (animisme) kalo disini semua penduduknya beragama islam.

Ada banyak kebiasaan yang harus kamu taati dan jangan pernah coba di langgar bila berkunjung ke kampung ini. Mulai dari aturan tidur, aturan mandi, berpakaian, serta aturan memakai alat komunikasi. Yang jelas, sangat menarik dan tidak terlupakan.

diambil dengan Camera Canon 1100D. ISO-500. Ekposure time 1/80 sec. Dan f/ 5.6.
Located #Kampung-Dukuh-Garut

Fire Man 2 #Human-interest



Photo ini diambil saat Festival Bandung Tempo Doeloe. 

Dengan menggunakan camaera Canon EOS 1100D. ISO-3200. Eksposure time 1/15 sec. Dan f/ 5.6.

Strong Woman #Human-interest.


Namanya ibu Titi di usianya yang tidak muda lagi, dia berprofesi sebagai juru parkir di daerah Cilengkrang 2. Setelah suami yang dia nikahi meninggalkan dia tanpa sebab, beban hidupnya memang berat, dia harus menghidupi putra dan putrinya yang masih sekolah, sehingga dengan pekerjaannya sebagai buruh cuci yang hanya di gaji Rp. 200.000 perbulan tidak mencukupi hidupnya dan keluarganya selama sehari-hari. Sehingga dia memutuskan mencari pekerjaan sampingan yakni juru parkir.

Inilah hebatnya perempuan bisa bertahan dalam segala keterbatasan dan beban hidup yang di hadapi. Meski pekerjaan ini tidak biasa, tetapi bisa dilakukan oleh beliau, salah satu emansipasi wanita di zaman modern.  

Tumbuhlah Besar dan Jangan Jadi Pengemis #Human-interest


Hiduplah di kota kamu akan menemukan banyak orang berjuang untuk hidup orang-orang yang setelah hari ini dia bisa makan, lalu dia akan memikirkan apa yang besok akan dia makan kembali atau berpuasa untuk beberapa hari kedepan.
#renungan #human-interest #taken at Braga Street.

Fire Man #Human-interest.


Photo ini diambil di Festival Bandung Tempo Doeloe. Seorang Fire dancer sedang menunjukan keahliannya. 
Menggunakan Canon EOS 1100D. Dengan F/ 5.6. ISO 3200. Eksposure time 1/160 sec.
Bandung 23/03/2013

Senyummu Tak Seindah Jalan yang Kau Pijak #Human-interest



Siang itu di sebuah area pembangungnan, anak kecil sedang berlari kecil mengejar jejak langkah ibunya yang telah lebih dulu darinya.

“Ibu-ibu tungguin”, begitulah kiranya ucapan manja yang terlontar dari mulutnya. Meski jalanan begitu curam karena area pembangunan belum steril, namun begitulah “Anak kecil itu terlihat tak ada masalah dengan itu, sedikitpun”.

Saturday, November 5, 2016

Reinkarnasi Kebaikan & Kejahatan .

"Apa yang kita lakukan di hari ini menentukan masa depan kita"
Pernah mendengar kalimat ini? ternyata ini bukanlah kalimat biasa2 saja yg terangkai menjadi kalimat bijak. Di balik kalimat tersebut ada makna dalam yang terpendam.

Percayakah bahwa, kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan berdasarkan dari masa lalu hdp orng lain atau keluarga keturunan kita sebelumnya. 1 kejahatan yang dilakukan dihari ini pada orang lain akan membawa dampak buruk bagi keturunan kita di masa depan (begitupun sebalikny). Dan satu kebaikan yang telah dilakukan oleh garis keturunan kita dimasa lalu, bisa jadi itu yang menjadikan kita baik d masa kini.

Banyak fenomena yang terjadi d masyarakat Misalnya seorang bapak yg hobbynya tukang kawin, itu bisa jadi karena keturunan terdahulunya yang seperti itu. Ntah mungkin garis keturunan sebelumnya atau beberpa dekade silsilah setelahnya.

Jadi saya mulai sadar kehidupan ini bukan untuk di miliki dan di jalani sesuka hati. Setiap runtutan mulai dari masa lalu, masa kini dan masa depan saling terkoneksi atau mungkin pengulangan pengalaman yang bs jadi eyang buyut sy pernah lakukan dulu.

Oleh karena itu bukan suatu keharusan tetapi kesadaran untuk hidup sesuai norma & keyakinan kuat kepada Tuhan, sehingga keberkahan dalam kebaikan yang sempat kita lakukan bisa kita teruskan kepada generasi2 setelahnya.

Dan memohon ampun serta tidak mengulangi kejahatan yang pernah di lakukan kepada orang lain salah satunya agar mencegah garis keturunan di masa depan melakukan itu. 

Terakhir tambahan Quotes menarik di bawah ini.
Hidup kita bukanlah milik kita sendiri dari rahim hingga pusara kita terhubung satu sama lain. Masa lalu dan masa kini. Dan setiap kejahatan dan kebaikan merenkarnasi masa depan kita. #serial-film-could atlas

Tuesday, November 1, 2016

#Renungan

Aku tidak ingin bermusuhan dengan mu, aku tidak ingin menggapmu adalah penyebab dari sebab buruknya diriku, aku tidak ingin menjadikanmu kambing hitam dalam setiap hal yang terjadi. Dan pada akhirnya aku tidak ingin menjauhimu.

Aku tau di dunia ini ada satu hal yang sangat sulit yang ingin ku hindari dari mu yaitu berusaha mengEgoiskan diriku dan menjauhi mu yang selalu berujung aku kembali lagi mendekatimu tp ku mohon, aku sadar adanya kamu tidak akan merubahku jd lebih baik bahkan aku harusnya menekanmu menjaga jarak dariku.

Tapi disamping i sungguh, kamu adalah teman yang jarak nya lebih dekat seperti bayangan, selalu mengikutiku kemanapun. Maka berdamailah dengan ku, dan biarkan segala hal buruk dan semua yang telah kita lewati kita relakan. Berdamailah dengan aku, dan akan ku anggap engkau teman bukan seorang musuh.