Friday, February 21, 2014

Manfaat blog bagi Pekerja Jurnalis

Sumber Gambar : Internet
Perubahan media secara global merambah di wilayah Indonesia. Begitupun dengan media online yang awalnya masuk sekitar tahun 2000 an. Namun kini, semakin berkembangnya zaman, media online semakin booming dengan berbagai fasilitas yang disediakan.

Terutama mengenai fasilitas sosial media. Dimana tak hanya orang-orang terdekat, bahkan dengan orang berbeda negarapun kini dapat saling mengenal.

Tak hanya berkutat mengenai fasilitas sosial media saja, seperti adanya facebook, twitter, jika dulu friendster dan Yahoo!Messengger dan yang terbaru sekarang contohnya ada instagram, dan path. Maka melihat fenomena sekarang, bentuk beritapun mulai mengalami perubahan. Ini tiada lain agar fasilitas informasi yang didapatkan masyarakat akan lebih mudah di tangkap.

Bentuk berita online itu seperti yang disajikan dalam berita-berita ringan dalam Yahoo ataupun Detik ataupun media berita online lainnya yang kini semakin menjamur. Namun, tentunya sebagai calon civitas pekerja jurnalistik juga, kemampuan menulis seorang jurnalis tak hanya dapat di kembangkan lewat berita yang mereka tulis di media-media berita online tersebut.

Tetapi lebih dari itu, bagi mereka para jurnalis yang memiliki kebesaran hati dan ingin berbagi informasi secara detail mereka akan menuliskannya didalam blog masing-masing. Seperti halnya blog milik Iwan Piliang dimana ketika dia keluar dari Tempo, piliang kemudian menjadi citizen jurnalis yang dia mencari berita, lalu kemudian menuliskannya di blog yang ia miliki. 

Lewat salah satu kasus yang dia ungkap di blognya kala itu, dia kemudian menjadi rujukan informasi tentang kasus berita tersebut. Inilah pentingnya blog, salah satu fasilitas menulis online yang dimiliki saat ini, yang tak hanya sebagai media diary harian, tetapi lebih dari itu, sebagai salah satu bentuk informasi juga. Namun, sebagai pembaca, kita juga harus pintar-pintar melakukan validitas atas informasi yang di ketahui di blog.(Nurl)



Wednesday, February 5, 2014

Tak Sekedar Pecel Lele Biasa

Sumber gambar : Internet
Pecel lele, siapa yang tidak mengenal kuliner yang satu ini? Mudah kita jumpai ketika malam hari di pinggir jalan. Biasanya berbarengan dengan Sea food, ayam goreng, atau bahkan bebek goreng. 

Makanan yang satu ini sudah sangat di kenal oleh masyakarat, sehingga semakin berjamuran saja pedagang yang menjajakan pangan khas lele. Selain karena mudah diolah, terkadang hal yang dirindukan oleh pecinta kuliner adalah bumbu yang menyelimuti seluruh bagian lele tersebut.

Berbagai variatif menu muncul demi menyuguhkan makanan yang satu ini, salah satunya adalah lele tepung goreng. Tapi jangan salah, menu ini belum bisa anda temui di pedagang pecel lele di pinggir jalan. Tetapi anda bisa menemukannya di “Pecel Lele Lela”. Menu yang merupakan menu awal sang ahli kuliner lele ini, menjadi salah satu menu andalan lele ketika Rangga Umara (red pemilik pecel lele Lela) berjualan dulu.

Kini, usaha waralabanya telah membuka cabang dimana-mana. Dengan omset setiap bulannya mencapai 1.8 Miliayar. Jika diamati ada yang berbeda memang dengan usaha ini, pasalnya ketika hampir semua pecel lele buka pada sore hari, pecel lele lela buka sejak pagi hari sekitar pukul 10.00, kuliner ini tidak seperti pecel lele lainnya yang dijajakan di pinggir jalan tetapi berupa ruangan yang kurang lebih berukuran sekitar 3x4 meter. 

Setiap pengunjung yang datang baik itu pada siang hari atau bahkan malam hari, pelayan selalu mengucapakan “Selamat Pagi”. Dan bagi pengunjung yang berulang tahun serta memiliki nama Lella maka bisa gratis makan di tempat ini.

Nama Lela sendiri sebenarnya bukan nama istriku atau anak-anakku. Kedua anakku laki-laki, Razan Muhammad (2,5) dan Ghanny Adzra Umara (1,5). Lela hanyalah sebuah singkatan, yaitu Lebih Laku”. Ungkap pria yang berusia 31 tahun ini. “Dan sebelumnya, aku pernah membuka beberapa usaha kecil-kecilan, antara lain penyewaan komputer, tapi bisnisku selalu gagal. Setelah kupikir-pikir, kuputuskan membuka usaha di bidang kuliner. Alasannya sederhana saja, aku suka sekali makan.” Jelasnya.

Berawal dari menu lele tepung goreng, kini menu yang disediakan sangat beragam antara lain, lele fillet kremes, lele saus padang , Lele Fillet kuah TomYam dan lele original. “empat menu inilah yang jadi andalan kami, bahkan jadi favorit pembeli hingga kini”. Dengan cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 6000- Rp 12000, anda sudah bisa menikmati suguhan makanan khas lele. Berani mencoba?
Nur lailla kamil

Bocah, Penjual Cobek


Terlihat bocah penjual cobek yang sedang beristirahat. Sumber :Internet
Di terik matahari yang panas itu. Sekitar pukul 14.00 tiga bocah dan 2 orang wanita yang berusia separuh baya mulai tiba di lampu merah jalan Turnjoyo.

Mereka bersiap-siap dengan sebuah keranjang bambu dan cobeknya. 2 orang gadis kecil yang berusia sekitar 6 tahun dan 7 tahunan terlihat membawa cobek. Si gadis dengan baju merah nampak membawa keranjang bambu dengan diisi oleh 2 buah cobek.

Dan satu gadis dengan rambut diikat, dia nampak membawa satu buah cobek dengan kedua tangannya. Sementara, bocah laki-laki dengan usia sekitar 4,5 tahunan duduk di samping trotoar sembari menunggu kakak mereka kembali.Di tepi trotoar sana. Terlihat dua orang ibu yang tiada lain adalah orangtua ketiga bocah tadi. Tepat berada di belakangnya. Mereka sedang menunggu dan terlihat duduk di tepian trotoar sembari saling membersihkan rambutnya dari kutu-kutu.

Jalan Turnojoyo. Jika diamati merupakan daerah kota yang letaknya di belakang Mall BIP. Tapi siapa sangka di balik metropolitannya kota Bandung sekalipun. Nyatanya masih ada saja bocah-bocah yang menjajakan cobeknya kepada pengendara di lampu merah? dan bukankah itu sangat beresiko bagi mereka?Saat lampu merah menyala. Dua orang dari bocah perempuan itu terlihat segera berlari menjajakan cobeknya. 

Bocah perempuan berbaju merah segera memanggul keranjang yang berisi cobek. Tak lama bocah perempuan dengan rambut diikat pun segera menyusul untuk menawarkan kepada pengendara yang lain. Anak sekecil itu, masih sangat polos. Jelas mereka tidak akan malu di suruh oleh orang tua nya untuk berdagang cobek di lampu merah. 

Tetapi,  di daerah lalu lintas seperti itu di tambah sebentarnya lampu lalu merah menyala, siapa yang bisa melakukan transaksi dengan mudah? Apalagi dengan anak kecil? Berkali-kali si anak terlihat lari tergopoh-gopoh menawarkan cobek, tetapi dia juga harus siaga kembali ke tepian jika lampu hijau telah menyala.

Cobek yang mereka bawa itu jika di timbang, beratnya sekitar 1 kiloan dan dalam keranjang yang terbuat dari bambu itu, si bocah berbaju merah membawa 2 buah cobek yang terus ia jajakan kepada pengendara. Namun, selama beberapa menit mereka menjajakan cobek. Tak  jua ada tanda-tanda yang akan membeli cobek itu. Berkali-kali mereka mencoba menawarkan lalu ketepian, menawarkan ketepian lagi.

Tapi mereka tidak menyerah. Dengan sigap mereka segera menepi ketika lampu hijau menyala. Di sela-sela menunggu lampu merah kembali, mereka bercanda ria dengan bocah laki-laki yang terlihat kurus itu. Bahkan gadis cilik berbaju merah itu sesekali memeluk dan mencium adiknya. Bertahan hidup di kota besar memang keras, tapi itu semua  tak dapat merubah hati bocah-bocah itu untuk berhati lembut, dengan tetap menyayangi serta membantu orangtuanya.

Kini yang ada, waktu yang seharusnya digunakan untuk mereka tidur siang ataupun bermain. Harus terenggut dengan tuntutan berjualan cobek di lampu merah Turnojoyo.

“Menelisik Spesies Blekok di Rancabayawak”

Da sadaya nage seeur tangkal awi mah, dimana-mana ge, cuman ngan ieu hungkul nu aya manuk blekok kan mah” (Disemuanya juga (tempat) banyak pohon bambu, cuman hanya disini saja yang terdapat burung blekok), ungkap ceu imas yang merupakan putri dari pemilik burung blekok.

Burung blekok atau dengan nama ilmiah Ardeola Speciosa merupakan salah satu jenis unggas yang makanannya adalah ikan-ikan kecil. Burung ini biasanya banyak terdapat di sawah-sawah. Tetapi lain halnya dengan blekok yang terdapat di kampung Rancabayawak desa Cisaranteun kidul kec. Gedebage kab. Bandung. Burung ini bersarang di sekumpulan pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi ke langit.

Jika di amati burung ini, hampir mirip dengan burung bangau tetapi, jika burung bangau ketika terbang meluruskan leher dan merentangkan kakiknya. Lain hal nya dengan blekok mereka ketika terbang tinggi lehernya membentuk huruf S. Konon katanya menurut Ceu Imas bahwa, spesies burung di tempat ini (pohon bambu) tidak hanya dari jenis blekok saja, tetapi juga dari jenis burung yang lain. Salah satunya burung Kuntul Kerbau. Serta beberapa burung dengan warna, merah, kuning, biru yang tidak di ketahui jenisnya.

Seperti biasa di siang itu sekitar pukul 09.30, terlihat beberapa burung blekok lebih sedikit dari biasanya. Di karenakan pada siang hari blekok mencari makan dalam jarak yang  jauh, baru ketika jam 5 sore sampai dengan jam 7 malam mereka kembali lagi ke sarangnya. Spesies burung blekok ini menjadi salah satu burung yang langka, terlihat dari tempat singgahnya yang hanya bisa di temui di beberapa tempat saja. 

Dan menurut peneliti bahwa tempat singgah blekok yang berada di Rancabayawak merupakan salah satu tempat singgah burung di daerah Asia. Ditanya tentang asal muasal keberedaan burung blekok ini ceu Imas pun menjawab, 

anu ngagaduhan ieu teh mimitina pun biang di tahun 90-an duka nyandak namah, mung hiji duka sabaraha. Nu pasti mah di tahun 90-an teh, manuk mereun teu aya tempat singgah janteun para rindah kadieu” (Yang pertama memelihara blekok pada awalnya tahun 90 an.Yang pasti di tahun itu burung tidak memiliki tempat singgah), Jelas ceu imas panjang lebar.

Seiring berkembangnya waktu, burung yang sejak tahun 90-an menetap di sini kini jumlahnya sudah mencapai 1073 ekor spesies. Telah banyak juga peneliti yang mencoba mengetahui tentang spesies ini, mereka biasanya datang dari universitas seperti dari Unpad komunitas Bicon yang mencoba meneliti dan memberikan sebuah buku hasil penelitiannya kepada Ceu Imas sebagai kenang-kenangan. 

Tak hanya itu, banyak juga peneliti yang datang dari luar negeri seperti dari negara Amerika dan Australia. “Ieu ge pa Dada nembe percanteunen teh ku sabab orang Australi ntos neuliti ka dieu”. Jelasnya. 



plang yang menunjukan peraturan pemda tentang burung blekok dan habitatnya. Sumber Internet
Kini, Burung blekok beserta pohon bambunya telah diatur untuk di lindungi sejak tahun 2005 tetapi baru diresmikan oleh pak wali kota pada tahun 2011 kemarin. Pada awalnya sebelum ada aturan untuk dilindungi  jumlah bambu sangat banyak, tetapi pada saat itu masyarkat banyak yang meminta bambu untuk berbagai macam keperluan. 

Sehingga sekarang jumlahnya menjadi sedikit. Banyak pula warga, khusunya ibu-ibu ngidam yang ingin meminta burung blekok sebagai santapan. Namun ungkap ceu imas, “aduuuhh,, abdi mah nu caket kieu ge da teu hoyong nanaon, da anu ngidam mah ngan saukur dunia hayalan. Mangga bilih bade mah, nuhun keuna tong ka abdi tapi ka Pa Dada. Da nu gaduh perda nage Pak Dada”
 (Aduh, saya juga yang dekat seperti ini tidak menginginkan apa-apa (burung), orang yang ngidam hanya sekedar dunia khayalan. Silahkan saja ingin blekok mah, bicara langsung kepada pak Dada). Ucapnya sambil tertawa.

Sekarang, burung blekok ini telah menjadi salah satu tujuan cagar wisata yang berada di kampung Rancayawak desa Cisaranteun kidul kecamatan Gedebage kabupaten Bandung. Ini terlihat dari pengunjung yang datang seperti dari komunitas sepeda kota bandung, komunitas mio,ibu-ibu pengjian dago dan lain-lain.

Namun sayang, akses jalan menuju kampung Rancabayawak yang masih sangat terpencil dan sedikit sulit di akses sehingga ini menjadi perhatian pemerintah tidak hanya untuk sekedar memasang plang tanda di resmikan tetapi juga harus bisa mempermudah akses jalan menuju kesana.
(Nurlailla Kamil)


Si Hijau yang menyegarkan sekaligus Menyembuhkan






Apa yang anda ingat jika membicarakan tentang Bandung? Kuliner kah? Fashion? Atau kota kreatif? Nampaknya kuliner masih menjadi destinasi wisatawan untuk melancong ke Bandung. Dan itu terlihat dari banyaknya kuliner menarik dan enak yang dijajakan dikota Parahyangan ini.

Seperti minuman khas Kelapa bakar. Mungkin ini sedikit terdengar asing di telinga anda. Tetapi bagi anda pemburu kuliner, tentu patut untuk dicoba. Tak seperti Es kelapa muda yang disajikan sebagai pelepas dahaga, kelapa bakar memiliki beragam khasiat untuk kesehatan. 


Diantarnya sebagai obat masuk angin, pegal-pegal, rheumatik, sesak napas, penurun kolesterol, penetralisir racun pestisida, dan penambah stamina. Selain itu, menurut Nurohman Nugroho (38) sebagai pemilik dari cabang kelapa bakar daerah Cikutra, dia menjelaskan bahwa kelapa bakar sangat manjur bagi pengidap penyakit batu ginjal. Yaitu  dengan cara di minum 3 hari berturut-turut. “insyaalloh penyakitnya akan sembuh” jelasnya.


Di bakar selama 3 jam didalam tangku tangki yang dibuat khusus. Hangatnya air kelapa ditambah dengan rempah-rempah, susu dan daging kelapa didalamnya, akan cukup membuat anda rileks dan menghangatkan tubuh. Selain menu diatas, anda juga bisa menikmati variatif menu lainnya. Seperti, kelapa bakar original, kelapa bakar susu, kelapa bakar madu rempah, dan kelapa bakar spesial pake telur. Untuk harganya sendiri mulai dari Rp. 8000 s/d Rp. 17.000.

 Didaerah Bandung kelapa bakar Kunigor telah memiliki cabang sebanyak 3 tempat. Yaitu di Antapani, cisaranteun, dan yang baru 6 bulan buka di Cikutra. Ace, panggilan akrab Nurohman Nugroho mengungkapkan bahwa untuk modal awal membangun usaha ini dia memerlukan uang sebesar 25 juta rupiah. Dengan penghasilan perharinya sekitar Rp 100.000 s/d Rp. 150.000_  Jika cuaca tidak sedang hujan, semakin malam pembeli kelapa bakar ini semakin banyak.

Mesti begitu, untuk pelanggannya sendiri tidak dibatasi mulai dari kalangan tua hingga kalangan muda.Usut punya usut ternyata menurut Ace, ide kelapa bakar ini berawal dari kebiasaan pengobatan yang selalu dilakukan oleh Suku Dayak Kalimantan Timur. Sehingga untuk bahan rempah rempah dan madunya sendiri dipasok langsung dari Kalimantan. Sedangkan untuk buah kelapanya dikirim dari Cianjur. 


Sekali pengiriman buah kelapa dalam 1 bak mobil, Ace biasanya hanya mengambil sekitar 400 biji buah kelapa dengan sortir yang tidak sembarang. Seiring berjalannya waktu, kini semakin banyak masyarakat yang mencoba usaha ini dengan kreasi usaha yang berbeda. “Tapi saya tau, yang biasa beli disini lalu nyoba-nyoba ke yang lain, katanya tetep rasanya beda jauh. Lebih enak disini” ungkapnya. 


Kedai  sederhana yang berada di Cikutra ini biasa buka dari pukul 09.00 sampai dengan pukul  23.00 WIB. Anda tertarik untuk mencoba?


Nurlailla Kamil