Thursday, July 11, 2013

Pemberitaan yang Mengikis Rasa Nasionalisme

Media. Apa yang terpikir di benak anda dengan kata media? Satu padanan kata yang memiliki arti perantara penyampai pesan di dunia komunikasi. Bisa berbicara tentang radio, televisi, koran, majalah, tabloid, atau sekarang merambah ke dunia internet. Ketika berbicara  tentang komunikasi maka media tidak pernah bisa lepas dari relasi tersebut. Mengingat,  tanpa media pesan tidak dapat disampakaikan secara meluas.

Belakangan ini, orang semakin mengakui bahwa cakupan dunia komunikasi dan kesempatan yang di tawarkan begitu beragam. Hingga tak heran jika kini mulai banyak orang yang tertarik dan menanamkan sahamnya di dunia ini. Terhitung di Indonesia saja sudah ribuan media yang ada. 
Dengan menawarkan ragam informasi yang berguna bagi peminatnya.Namun, pernahkan anda memperhatikan bahwa hampir di semua media, baik cetak, elektronik atau intenet. Informasi yang di jual merupakan informasi dengan kabar yang buruk. Dalam artian, media kini lebih banyak menginformasikan isu-isu buruk yang santer beredar di masyarakat ketimbang isu-isu baik yang dianggap biasa-biasa saja.
 

Kenapa demikian? Karena media mengganggap bahwa Bad news is Good news. Berita buruk adalah informasi yang bagus untuk di beritakan. Jadi, media lebih tertarik memberitakan berita bad news yang kontroversial di masyarakat ketimbang peminat berita Good news. Ini juga berbicara masalah pangsa pasar. Bahwa bad news lebih menjanjikan untuk di jual ke khalayak dibanding berita yang bagus, yang pada akhirnya tidak terlalu menghebohkan di pasaran.
Indonesia merupakan negara berkembang. Dengan populasi penduduk mencapai dua ratus ribu jiwa lebih. Menjadikan Indonesia  negara dengan populasi terbesar ke 4 didunia. Namun, dengan jumlah yang banyak tersebut. Luas wilayah negara ini berimbang, menjuntai dari sabang sampai merauke. Bahkan, negara semaju Brunei dan Singapura pun kalah luasnya dengan negara kita.
 
Tidak adakah berita yang lebih baik di beritakan di negeri tercinta ini? Selain sekedar berita kebobrokan para pemangku amanah rakyat yang kini mulai menyimpang? Hal yang sangat penting di perhatikan oleh media. Bahwa dalam agenda settingnya media harus memperhatikan keberimbangan berita. Tidak hanya dari segi narasumber berita saja. Tetapi porsi isi berita di media cetak atau elektronik pun sebaiknya memperhatikan berita yang merupakan issu yang baik dan issu yang buruk terjadi di masyarakat.
 
Kebanyakan yang kini terjadi misalkan,  halaman headline issu negatif yang sedang santer terjadi, berpindah pada halaman ekonomi tentang inflasi keuangan yang meningkat. Lalu beranjak ke ranah politik issu aparat pemerintah yang tak terpuji. Dibagian kriminal pemerkosaan anak sekolah dan lain-lain. Ini hanya sebagian contoh issu yang diangkat oleh media cetak.
 
Tak jauh berbeda dengan koran, televisi pun begitu. Ketika kita menyetel berita di pagi hari, maka yang muncul di headlinenya lagi-lagi tentang aparat pemerintah yang tersandung masalah atau kini sedang hangat-hangatnya permasalahan BBM. Dengan pembagian BLSM-nya yang tidak adil, kelangkaan gas bahkan harga yang mulai merangkak naik.
 
Tak hanya itu, media televisi bisa lebih parah dari media lainnya. Bahkan  televisi berita yang kini mulai banyak peminatnya, sirkulasi beritanya pun semakin meningkat. Apalagi jika berita itu mengenai rival politik pemilik media tersebut. Kebanyakan televisi berita akan mengeksklusifkan issu itu dengan mendatangkan para pakar bahkan membuat seolah-olah beritanya terkesan depth reporting (berita mendalam).
 
Jika ini terus terjadi maka lama kelamaan masyarakat akan jenuh dengan pemberitaan negatif yang terus di cekoki oleh media. Walaupun berita itu apa adanya. Tetapi bagi sebagian orang berita ini tidak mendatangkan manfaat yang besar. Malah mungkin akan semakin mengikis rasa nasionalisme, rasa kebanggaan terhadap negeri sendiri.

Karena dengan berita buruk yang terus di guyur oleh media. Itu akan menanamkan efek im
age yang buruk di negeri ini. Mari perhatikan beberapa puluh tahun lagi, jika kebiasaan media ini tidak segera di hentikan maka, akan melunturkan rasa cinta dan bangga terhadap negeri sendiri. Oleh karena itu, semoga media dapat benar-benar mencerdaskan masyarakat dan menyampaikan harapan pada setiap berita yang di informasikannya, bukan menggiring masyarakat pada issu-issu yang membingungkan tanpa mendatangkan solusi yang berarti bagi kemajuan Indonesia.

                                                                                                                                        Nurlailla kamil