Thursday, June 27, 2013

BBM Naik di Negeri Penghasil Migas Terbesar


Taukah anda bahwa perusahaan minyak terbesar di dunia yang menghasilkan Migas 3 diantaranya terdapat di Indonesia. Yakni adalah perusahaan Exxon Mobile, Chevron, dan Royal Duth Shell. Ketiganya masuk kedalam 25 perusahaan raksasa penghasil minyak versi Liputan6.com pada 12 Juni 2013. Namun, apa yang sekarang ini terjadi di Indonesia? Pemerintah menaikkan harga BBM, dan nampaknya hanya itu satu-satunya jalan keluar demi menyelamatkan defisit negara.
            Berdasarkan hasil rapat paripurna yang jatuh pada Senin 17 Juni 2013 lalu. DPR telah mengesahkan APBNP kenaikan harga BBM. Dimana premium yang tadinya berkisar Rp 4500 menjadi Rp 6500 dan Solar yang berkisar RP 4500 menjadi Rp 5500. Selain itu, untuk mengendalikan dan membantu rakyat kecil pemerintah mengeluarkan jurus jitunya yaitu dengan memberi BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) sebesar Rp 150.000 perbulan. Yang tak jauh berbeda dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai)
             Cukupkah masyarakat kecil menerima sumbangan ini dari pemerintah? Mengingat dengan naiknya harga BBM kebutuhan lainnya juga merangkak naik. Dengan kenaikan ini serta bantuan yang diberikan, apakah daya beli masyarakat juga akan meningkat? Jika di pikir tentu tidak, malah mungkin akan berkurang. Sangat miris rasanya, negara yang merupakan penghasil minyak namun tidak dapat sejahtera dengan kekayaan negaranya sendiri. Ini tentu menjadi catatan penting bagi pemerintah!
            Disamping itu ada hal lain juga yang di rasa kurang pas, mengingat timing untuk menaikkan harga BBM yang  nampaknya cukup dilematis. Disatu sisi proses untuk menaikan harga BBM ini sudah pemerintah tunda sejak 3 tahun yang lalu. Namun, disisi lain jika sekarang di paksakan waktunya terasa kurang cocok.
           Karena ada beberapa faktor penyebabnya: yang pertama, akan menjelang bulan ramadhan. Yang walaupun BBM tidak naik harga barang-barang kebutuhan dipasaran akan mengalami kenaikan. Apalagi seperti sekarang ini, akan berapa kali lipat kenaikannya? Yang kedua, saat-saat dimana orangtua sedang membutuhkan uang yang cukup banyak. Mengingat ini merupakan bulan-bulannya ajaran baru untuk masuk sekolah dan universitas. Yang ketiga, menjelang lebaran. Fenomena yang sama dengan bulan ramadhan. Harga mulai merangkak naik dan masyarakat harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan.
            Menurut saya, pemberian BLSM pun tidak akan mendatangkan banyak kontribusi besar bagi masyarakat. Uang yang besarnya hanya Rp 150.000 itu, sekedar pengganjal dan cadangan untuk pemenuhan kekurangan keuangan lainnya. Yang masyarakat butuhkan hanya kestabilan harga di pasaran. Dimana dengan uang yang sedikit bisa memenuhi daya beli masyarakat yang banyak. Sehingga uang itu terasa ada artinya. Tidak seperti sekarang ini memegang uang yang jumlahnya ratusan ribu, tetapi hanya beberapa item saja yang bisa terbeli.
        Berdasarkan sumber yang di peroleh dari Koran Pesbuk.com (https://www.facebook.com/korankita/posts/) pada 22 Juni 2013, fenomena menaikkan harga BBM ini ternyata telah menjadi kebiasaan turun temurun dari para presiden kita dan saya mencoba melampirkannya dibawah ini
Kenaikan Harga BBM Dari Tahun Ke Tahun

Soeharto :
1991: Rp 150 naik jadi Rp 550
1993: Rp 550 naik jadi Rp 700

BJ Habibie :
1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200

Abdurrahman Wahid :
1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000
1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600
2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150

Megawati Soekarnoputri :
2001: Rp 1.150 naik ke Rp 1.450
2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550

Susilo Bambang Yudhoyono :
2004: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810
2005: Rp 1.81 naik jadi Rp 2.400
2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500
2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000
2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500
2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000
2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500
2013: Rp.4.500 naik jadi Rp.6.500
                  Terhitung sejak presiden SBY menjabat, beliau sudah menaikkan harga BBM sebanyak 8 kali. Hingga kini mencapai level Rp 6500. Dengan adanya fenomena ini. Lalu apa yang dapat dilakukakan oleh masyarakat?
                 Sebaikknya masyarakat beralih menggunakan bahan bakar Gas, mengingat harga BBG masih terjangkau. Dan juga untuk pemerintah, agar memperhatikan suply gas karena beberapa isu menyebutkan bahwa gas yang sebesar 12 Kg juga sering mengalami kelangkaan. Kemudian pemberian BLSM agar dapat di kawal secara ketat oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang. Karena dalam hal ini, BLSM rentan dengan kepentingan politik. Serta masyarakat yang harus berusaha lebih rajin, jika tergolong mampu untuk apa meminta BLSM? Lebih hebat bekerja tekun tanpa menjadi warga miskin yang berpura-pura.
                    Kenaikan harga BBM ini pada akhrinya bukanlah sepenuhnya kesalahan sistem. Namun, sikap dari para aparatur negaranya yang harus mulai bersih. Tidak terketukkah hati mereka melihat keadaan ini? Maka dari itu hentikanlah korupsi dan junjung tinggi pemerintahan pengabdi negara yang bersih.

                                                                                                                                       Nurlaillla Kamil
                                                          


Thursday, June 13, 2013

Fatamorgana Penguasa Politik di Media Massa



Menurut anda, media apa yang sekarang ini sangat dekat dengan kita? Radiokah, televisi, koran atau internet? Melihat perkembangan zaman sekarang semua media bisa menjadi sangat dekat dan sangat mudah di jangkau oleh setiap pemirsanya. Ini yang kemudian menjadi salah satu penyebab banyaknya orang beralih bisnis pada media massa. Lalu dari semua media di Indonesia tahukan anda berapa jumlahnya?

Dikutip dari laman berita IANN News (Indonesia Archipelago National Network News) pada 29 Mei 2013 bahwa jumlah media massa di Indonesia selama kurun waktu sepuluh tahun ke belakang dari 2010 sudah berjumlah 2000 media massa. Yang terdiri dari 1000 media cetak di seluruh Indonesia, 250 media televisi baik lokal ataupun nasional dan 750 gelombang radio. Dan itu belum lagi di tambah dengan media massa internet yang kini ada.

Jelas, sejak di bukakannya keran reformasi pada tahun 1999 oleh presiden ketiga Indonesia. Perkembangan media massa sangat menjamur seperti di musim hujan. Dan setiap tahunnya terus mengalami penambahan. Ini terjadi karena setiap pemilik modal terkadang melakukan konglomerasi media. Dimana mereka memiliki media lebih dari satu jenis. Mereka melakukan konvergensi media pada bisnisnya.

Misalkan Abu Rizal Bakri selain memiliki perusahaan media Tv One tapi dia juga memiliki perusahaan televisi  ANTV dan media internet Viva News. Lalu kemudian Hary Tanoesodibyo yang memiliki beberapa stasiun televisi di bawah naungan MNC dan juga media onlinenya serta masih banyak lagi pengusaha lainnya yang memiliki media lebih dari 1 jenis.

Melihat fenomena ini masihkah media menjadi pilar ke empat demokrasi di Indonesia? Berdasarkan berita yang masih di peroleh dari IANN News, bahwa dari beribu-ribu media massa tersebut hanya 30 % yang sehat selebihnya bermasalah. Jika dilihat berdasarkan fungsi media sebagai sosial control tentu ini sangat bertentangan. Karena media di Indonesia belum sepenuhnya profesional dan independen.
Apalagi jika kita melihat fenomena sekarang, dimana banyak para pemilik media mulai melirik dunia politik. Sisi dari independenitas media akan terusik karena pastinya akan memihak pada pemilik modal. Berbagai bentuk agenda setting di lakukan oleh media, seolah-olah media tersebut layaknya tunggangan untuk mencapai posisi politik yang paling tinggi.


Tahun pemilu nasional tinggal sebentar lagi. 2014 sudah hampir di depan mata. Dari sejak jauh-jauh hari sudah mulai banyak pemimpin partai politik sekaligus pemilik media mendeklarasikan diri sebagai presiden. Dengan kepemilikan media oleh mereka, tentu ini tidak akan pernah sehat bagi atmosfer demokrasi Indonesia. Anda bisa bayangkan, apa yang terjadi jika pemilik media tersebut menang dalam pemilu nasional? Secara otomatis medianya akan terangkat serta kemungkinan besar masyrakat akan mengakses berita dari media tersebut.

Pantas jika keadaan politik, ekonomi, keamanan Indonesia tidak pernah stabil. Informasi yang harusnya begitu mudah diperolah dan  dapat di buktikan kebenarannya. Kini seakan-akan informasi itu seperti boneka pinokio yang di gerakkan oleh pawangnya dari atas. kebebasan berita di media kita mulai dipertanyakan! Termasuk keidealisan para pekerja pemburu berita yang kini mulai mengekor pada pemilik modal.

Tidak hanya dilihat dari sisi media yang dimiliki oleh partai politik, tetapi menjelang pemilu ini juga masyarakat harus bisa memilih iklan-iklan yang hadir di media. Saat ini media yang dekat dengan semua lapisan masyarakat adalah televisi. Lewat audivisualnya televisi bisa saja mempengaruhi pandangan dari masyrakat dalam memilih pemimpinnya.

Yang terjadi bahwa apa yang ada di televisi bisa saja di dramatisir. Banyak pencitraan yang dilakukan oleh para aktifis politik untuk meraup hati rakyat. Dengan iklan seperti tayangan peduli banjir,  peduli gempa, pemberian santunan kepada anak yatim dan lain-lain. Seolah kini calon pemimpin itu citranya tergantung dari berita yang di sampaikan oleh media. Dan itu bisa menipu. 

Kita tahu bahwa pada tahun 2009 kemarin, presiden Susilo Bambang Yudhoyono menang dalam pemilu 2009 karena pengaruh iklan yang di tampilkan oleh televisi. Betapa seringnya bapak SBY muncul di hampir seluruh iklan di televisi. Dan berkat bantuan media dia bisa mendulang kesuksesan yang kedua kalinya menjadi presiden Indonesia.

Tentu menjelang pemilu ini juga media tidak sepenuhnya bisa independen apalagi menyangkut profit yang akan di peroleh dari iklan yang di sematkan oleh para calon, karena biaya yang dikeluarkan oleh calon untuk iklan mereka di media itu lumayan memberikan sisi ekonomis bagi pelaku media massa.
Ketika media menggembar-gemborkan para penguasa politik yang hanya dilihat dari segi pencitraannya, tidak dari karakter aslinya. Maka, ketika mereka memimpin semuanya akan sirna. Pencitraan itu sesungguhnya hanyalah semu, dan yang tertipu kembali hanyalah masyarakat luas.
Nampaknya keadaan dimana media berkuasa  harus dibatasi. Termasuk para pemilik media tersebut. Bagi kalangan berduit, apapun dapat dilakukan untuk mencapai apa yang diinginkan. Tetapi sebuah negara tidak berpihak hanya pada kalangan berduit saja, tetapi juga masih ada kalangan menengah ke bawah yang perlu disejahterakan. Ketika para calon bersuka cita dengan pencitraanya di media, yang terjadi nantinya adalah si miskin tetap saja miskin. Semuanya tidak mendatangkan pengaruh yang nyata.

Harus ada peraturan khusus yang di tegakkan mengenai kepemilikan media ini. Atau peraturan untuk tidak berpihaknya pada politik. Karena informasi yang benar merupakan hak setiap orang. Jangan sampai media dimanfaatkan oleh segelintir pihak yang ingin berkuasa. Lalu bagaimana langkah yang bisa diambil masyakarat melihat fenomena ini? Sesungguhnya fatamorgana sesaat ini harus di waspadai, masyarakat harus pintar memilih. Lihatlah calon pemimpin anda dari kehidupan aslinya, dari profil kesehariannya. Lalu bandingkan dengan pencitraanya di televiSI. Jangan sepenuhnya percaya terhadap janji politik, pilihlah pemimpin dengan sangat selektif, demi Indonesia yang lebih baik.
(Artikel ini di muat di Rubrik Mimbar akademik PR dengan Judul " Masihkah Media Jadi Pilar Demokrasi?" pada 13 Juni 2013 dan ini merupakan artikel pertama saya yang dimuat.. saya sangat senang sekali..)
Nur Lella
Pengamat media juga
Mahasiswa Aktif Ilmu Komunikasi Jurnalistik


My Gallery " Photo Artistik"

Hey,,Heyy Blogger......
kali ini aku mencoba memposting
hasil dari Hobby Jeprat Jeprutku...
Masih sebatas iseng sih, dan tentunya
masih banyak perlu belajar.
Eh, minta koment nya dong dari kalian..
Ini Photonya bagus apa engga??
(hehe.. maksa...!!! hehe kali-kali yah blogger)
Jadi selain kalian nikmatin PhotonyA
jangan lupa Koment dan nilai juga ya...

Oups, ada yang hobby hunting photo??
Yu, bareng kali-kali.... :)))


Poto ini di ambil ketika MKAA mengadakan pameran Topeng Internasional antara Indonesia dan Jepang pada 09 Juni 2013. Dan ini merupakan Model Topeng dari Jepang





 Poto yang diambil dari Lukisan dinding salah satu pintu bangunan dari daerah Braga Bandung






Poto ini di ambil ketika MKAA mengadakan pameran Topeng Internasional antara Indonesia dan Jepang pada 09 Juni 2013. Dan ini merupakan Model Topeng dari Jepang






 Mobil antik yang diambil ketika MKAA sedang mengadakan Ulang tahun pada 21 April 2013 jalan Braga Bandung


 

Friday, June 7, 2013

Minat jadi Announcer?????

Hey kamu, yang suka banget dengan dunia music dan dunia radio. Ada info nih, gabung yu dengan Batic Broadcast.
Kamu disini bakal mendapatkan pengalaman seru mengenai dunia penyiaran. Jika kamu emang jago jadi MC, belum tentu ketika berhadapan dengan Mic dan Mixer  plus pendengar kamu bakal lancar ngomong.. -____-

Malah mungkin yang akan kamu alami adalah kikuk... :)
Sudah hampir 3 minggu, saya mengikuti pelatihan di Batic Broadcast sejak 20 Mei 2013. Dan itu asik banget. Disina saya bisa belajar banyak tentang radio. Yang pada awalnya hanya sekedar hobby denger radio. Eh, sekarang mulai bisa dikit-dikit  belajar gimana rasanya jadi seorang Disc Jokey (DJ).
Pelatihan yang diadakan selama 2 bulan ini, diisi oleh tutor-tutor professional yang datang dari berbagai macam radio di Bandung. Mereka ada dari penyiar I radio, Hits Radio, SE Radio, Hardrock, On Radio, Litta FM dll. Ga hanya itu, ketika selesai mengikuti pelatihan kalian juga akan diarahkan untuk mengikuti program magang selama 1 bulan di salah satu radio di Bandung. Buat info aja, angkatan aku yang sekarang ini merupakan angkatan yang pertama di Batic Broadcast.

Karena Founder yang juga dosen aku di Ilmu Komunikasi Jurnalistik, Kang Romel Tea, awalnya telah merintis pelatihan yang serupa dengan nama yang berbeda. Dan kini kembali di buka dengan menagement yang baru serta konsep yang berbeda pula.
Kurikulum yang di sampaikan disini ga hanya mencakup tentang radio saja. Tetapi juga lebih luas. Kita bisa belajar tentang teknik vocal,  pernapasan,  public speaking, siaran single, siaran tendem ( double penyiar), teknik menyampaikan berita di radio,  membuat program di radio, teknik interviewrequest, bahkan teknik presentasi juga akan di bahas disini.

Dan ternyata setelah saya belajar selama ini, (red 3 mingguan) jadi penyiar itu ga gampang sama sekali. Ketika saya duduk di depan mic untuk memulai siaran, perasaan yang muncul adalah grogi. Memang, di radio panca indra yang digunakan hanyalah audio. Tapi jangan salah, bahwa dengan sedikit pancaindra yang dipakai otomatis seorang DJ harus bisa membuat pendengarnya membayangkan (theater of mind) apa yang di sampaikan. Dan itu ga mudah!

Di Batic Broadcast saya ga hanya menerima berbagai teknik ini itu. Namun, untungnya  disana juga saya bisa mencoba bagaimana rasanya mengoprasikan mixer plus berbicara langsung pada pendengar. Kamu bisa bayangkan, betapa dinginnya tangan saya ketika mulai berbicara, bahkan terkadang bunyi awal yang terdengar ketika memulai bicara adalah kata “eu..eu,,,eu,,” dan itu keliru.

Yang perlu di perhatikan oleh seorang penyiar selain kelancaran berbicara juga tentang artikulasi, aksentuasi, intonasi, dan bisa menyesuaikan speed. Owh iya, ketika pertemuan di pelatihan kedua dengan mba Feny dari Litta Fm, ada yang membuat saya masih teringat sampai sekarang yakni tentang ekpresi. Dimana ketika menjadi penyiar, ekspersi menyampaikan pesan ke pendengar itu harus pas. Jika sedang sedih, ekspresikanlah sedih, jika senang maka ekspersikan dengan ceria. Jika ada yang lucu maka tertawalah.

Dan lewat pertemuan itu saya serasa di ingatkan, bahwa selama ini saya tidak menggunakan ekpresi suara itu. hmm, kalian yang type orang pendiem, kebanyakan ketika ngomong rasanya flat...iya kan?? Dan itu ga asik. Seolah-olah pesan kita ga nyampe dengan tepat. Tapi ketika kita mengaktualisasikannya di hadapan teman-teman, eh malah diketawain. Ga apa-apa,  itu sebagai langkah awal menjadi seorang humoris.
Karena apa? Seorang penyiar juga perlu punya sense of humor. Jangan telalu gila juga sih.. :D

Nah gimana? Buat kalian yang pengen bangeet,,bangett tau tentang Broadcasting. Yu gabung disini. Baticbroadcast membuka pendaftaran untuk angkatan ke-2.
Kalian bisa ikuti perkembangannya atau mungkin mau tanya-tanya bisa di

http://www.baticbroadcast.com/ atau via Twitter di
atau facebook di http://www.facebook.com/batic.broadcast.1?ref=ts&fref=ts atau dateng langsung aja ke Jl Cikutra No 267-D Bandung (Kompleks Hotel Bumi Kitri/ belakang gor c-tra)


                   Dan ini merupakan foto dari sebagian teman-teman aku di Batic Broadcast

                 I'm just sharing information to you guys who are interested in broadcasting.. :)

Wednesday, June 5, 2013

Intoduce My Self.. :)

Hey reader, terimakasih yah sebelumnya telah berkunjung kedalam blogku. Semoga kalian suka dan enjoy membaca setiap note yang ada di blogku ini. Tapi rasanya ga asyik yah kalo kamu sebagai reader tadak mengetahui (anonim) terhadap penulis tulisan yang kamu baca ini. Ok deh, aku akan memperkenalkan diriku secara singkat untukmu, Yes For You, specially..

Kenalkan nama lengkapku : Nur Lella
Nama pena : Nurlailla kamil
Nama panggilanku : ella atau kadang ada yang memanggilku kamil, tapi dari semua itu
Ayahku dulu menamai aku dengan lagu yang saat itu lagi booming tau kan NUR LELLA..?
But, aku berterimakasih kepada ayah, yang walaupun unik tapi semoga ini menjadi doa... aminn..
Tempat tanggal lahir: Majalengka,04 Januari ....

Hobby;
 
saat ini sih aku lagi seneng bercuap-cuap ria, sambil dengerin musik, ya musik adalah stimulus pertamaku setiap hari, setelah aku bangun pasti aku akan bercermin lalu tersenyum dan sebelum menginjakkan kakiku ke langkah yang lebih serius, maka aku sebelumnya selalu mengharuskan mendengarkan lagu terlebih dahulu. Terutama lagu jazz atau pop. Karena percaya atau engga, itu bisa merubah moodku jadi semanggat..
  
yang kedua, aku sekarang lagi suka berorganisasi, yah walaupun organisasi itu juga melelahkan karena ga Cuma pikiran yang diasah, tapi juga dari waktu, uang dll. Tapi it’s enjoy... aku menikmati, walaupun kadang-kadang bingung juga sering tabrakan schedule.

Yang ke tiga, aku lagi suka cekkrak-cekrek nih, tapi bukan jadi model yah, tapi lebih pada ngambil angle yang ga di sadari, kaya moto human interest, benda,satwa, perjalanan,dll.
Sekarang aku lagi menempuh pendidikan SD 1 di salah saatu tempat di bandung.

Yang pasti dari semua yang aku tulis diatas, semuanya menyenangkan dan memberikan arti. So, syukuri hidup karena hidup adalah anugrah dari Alloh..
Keep enjoy guys, in my blog. And good eaten my read...

Monday, June 3, 2013

Hegemoni Media di era Pasca Reformasi

Di zaman global ini, hegemoni terlihat dari berbagai bentuk keadaan dan kondisi. Tidak hanya ruang lingkup politik saja tetapi merambah dalam pembahasan media. Tak heran jika sekarang ini media dengan halus dapat memanipulasi informasi, menyebarkan dan membesar-besarkannya. Sehingga apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting pula oleh masyarakat.

Dengan sangat cerdas memanfaatkan kedekatan dan kemudahan informasi inilah, media menjalankan agenda settingnya. Khalayak bisa menilai dari berpuluh-puluh media tv misalnya, mana yang tidak berimbang memberikan informasi?. Tapi kebanyakan khalayak  tidak menyadari ini lalu menelan informasi begitu saja.
 
Di Indonesia  sudah lumrah melihat direktur utama televisi bergabung dengan partai politik. Sehingga dari media yang dia punya secara tidak langsung dapat mendongkrak popularitas sosoknya sekaligus partai politiknya. Patutlah jika kini keberimbangan informasi di media mulai tergerus ke netralannya.
Kita tahu rumah politik merupakan ruang yang sarat dengan berbagai macam kepentingan. Dan tiada lain adalah kekuasaan. Kini berangasiapa yang menguasai media dan berpartner dengan partai politik maka setidaknya dia telah melebarkan kekuasaannya. Mari kita  melihat ke belakang, jika pada zaman orde baru siaran televisi TVRI sangat mendominasi pemberitaan khalayak, tetapi kini beralih issu bahwa pemilik media tv swasta yang mendominasi pemberitaan.
 
Apalagi jika kita perhatikan chanel televisi yang berlabel televisi berita. Betapa tidak, mereka sangat terlihat sekali kompetisinya. Tapi, ternyata walaupun mereka teramasuk pada televisi berita namun, kenyataannya objektifitas beritanya sangat di ragukan. Kenapa? Karena pemilik modal dari televisi itu sudah masuk kedalam ranah perpolitikkan, sehingga beritanya sendiri terkadang menjadi tameng pencitaraan tokoh politik tersebut.
 
Etika wartawan dalam mengangkat berita pun kini sudah banyak keluar dari norma etika pers. Terutama bagi para pekerja pers yang bekerja di media tv berita tersebut. Karena sesungguhnya setiap hari  haruslah ada  1 berita tentang objek sosok pemilik media tersebut. Mau itu ada hubungannya dengan berita lain ataupun tidak. Pernah saya melihat kasus dimana pemilik MNC Tv Hari Tanoesodibyo di kritik oleh KPI karena memberitakan tentang partai Hanura special siaran di tv tersebut. Sehingga ini nampaknya tidak terlihat etis dan penting.
 
Sedemikian pentingnya media dalam dunia politik sehingga menurut ahli komunikasi Manuel Castells berkesimpulan politik dapat diartikan politik media. Dalam artikel “ Hierarki Politik Media”, Dedi Kurnia Syah  Putra menulis, hal yang paling krusial dalam industri media saat ini adalah kepemilikan. Ia menyebutkan bahwa Indonesia telah memasuki fase liberal media yang memungkinkan siapapun pemilik modal besar dapat menguasai bisnis media (Media dan Komunikasi Politik, 2011).
 
Setelah di bukakannya keran reformasi pada tahun 1999, perkembangan media di Indonesia memang sangat menjamur seperti di musim hujan. Tetapi nampaknya ini tidak diimbangi dengan peraturan pemerintah mengenai aturan kepemilikan media tersebut. Setiap pengusaha media di negeri ini bebas memilki berapapun media informasi dari berbagai macam bentuknya, mulai dari cetak, elektronik hingga online.
 
Pantaslah jika mereka yang memiliki modal besar dan memilki antusiasme politik yang tinggi sangat memanfaatkan potensi ini. Sehingga kini seolah-olah media adalah kendaraan tunggangan dari partai politik mereka.Keadaan ini tidak dapat di biarakan begitu saja. Media sebagai kekuatan ketiga masih menjadi kekuatan yang besar harusnya!
 
Apalagi mengingat media sebagai sosial control, harusnya media yang bisa mengkritik para penguasa media tersebut, agar mereka tidak rakus dalam kepemilikan media. Tapi bagaimana jika harusnya wartawan sebagai pengkritiknya malah bekerja untuk pengusahanya tadi? Tentu manfaat dari sosial control ini hanya sebatas argumen.
 
Dalam kehidupan bermasyarakat, segala bentuk ketidakberimbangan akan menjadi masalah. Yang terjadi harusnya media menjadi bagian mempromosikan negeri ini hingga ke luar negeri. Tentang prestasi, keindahan alamnya, kebesaran budaya dan masyarakatnya. Tapi kini, yang dapat kita saksikan di  tv hanyalah pertengkaran argumen diantara para politikus Indonesia yang mulai bejad, dengan segala kasusnya.
 
Masyarakat nampaknya sudah mulai bosan dengan segala pemberitaan yang bertema “Bad News is Good News”. Yang tiada lain banyak mengangkat kasus tentang politik di Indonesia. Tahukah bahwa itu semua dapat menimbulkan rasa malu atas negeri sendiri? kita bisa melihat jika 20 tahun mendatang pemberitaan ini masih dibiarkan, maka rasa kebanggaan terhadap negeri sendiri akan memudar. Seiring buruknya pemberitaan yang diangkat ke muka umum.
Hingga pada akhirnya saya mennganggap bahwa berita yang di siarakan oleh media  sama saja seperti sinetron. Yang angle ceritanya itu dapat di ubah sesuai dengan keinginan sutradara. Padahal dalam dunia jurnalistik, memberitakan hal yang bohong adalah kesalahan yang sangat fatal. Karena sudah melanggar etika seorang jurnalis. Khalayak harus waspada dalam memilih berita, karena kini unsur dari berita bukan lagi objektifitas tapi, unsur kepentingan. 
     
Lalu apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat? Tiada lain selalu berusaha menjadi penonton yang cerdas. Cerdas dalam memilih dan memilah program yang akan ditonton. Matikan tv atau pindahkan chanel dan laporkan jika ada pelanggaran yang dilakukan oleh media tersebut. Selain itu, bagi pemerintah agar lebih tegas tentang peraturan kepemilikan media. Meski kita sudah reformasi, tetapi jangan sampai kita terlalu jauh menjadi bagian dari liberalisasi media. Karena percaya atau tidak sekarang ini adalah bagi siapa yang menguasai media maka dia menguasai pemberitaan. Nurlailla kamil