Sunday, November 25, 2012

Rumah Impian Ibu



Rabu, 07 Maret 2015
Aku berhasil meraih gelarku sebagai sarjana Sastra Inggris. Di jurusan Bahasa dan sastra inggris di sebuah universitas negeri di bandung. Dengan susah payah aku mendapatkan gelarku ini.
Jika menoleh kebelakang begitu terjal jalan yang harus aku lalui setelah selama delapan tahun ditinggal pergi oleh orang tuaku. Kini aku dengan dua orang kakak laki-lakiku Bang Bams dan bang Adi serta Teteh Eka. Adalah sosok kakak-kakak yang baik hati dengan kerja kerasnya mereka membiayai hidupku dan mengambil alih peran dari ayah dan ibu. Sementara Teteh, dia juga yang mengurus keperluanku dirumah. Dia adalah sosok kakak yang mampu menggantikan sebagian peran ibu dirumah. Sementra aku sendiri adalah Alan, begitulah ayah memanggil nama kecilku. Nama yang selalu membuatku senang ketika ayah memanggilku manja dengan nama itu. Dia begitu menyayangiku maklumlah karena aku bungsu. Dan ayah tak pernah malu mengungkapkan rasa sayangnya itu kepada setiap putra dan putrinya.
Namun, bencana datang menghampiri keluarga kami yang kecil ini. Keluarga kami yang hanya nelayan yang hidup sederhana dipinggir pantai Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Saat itu 8 tahun silam, ayah seperti biasa mencari ikan dilaut dan ibu sedang memasak nasi di dapur. Cuaca kala itu sangatlah mendung. Namun, ayah memaksakan diri untuk pergi kelaut mencari ikan untuk kami dirumah. Angin bergemuruh kala itu dan badai tak bisa terelakkan lagi. Ayah terbawa arus ombak yang begitu besar, tongkang yang dinaikinya hancur terhempas batu karang dan ayah terhayut. Tiga hari pencarian, jasad ayahpun ditemukan dipesisir pantai di daerah yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Namun, yang kudapatkan hanyalah jasad ayah yang mulai terbujur kaku, berlumur darah dari mulai keningnya sampai wajahnya yang tirus itu hancur, babak belur karena hempasan ombak yang memabwa jasad ayah ketepian batu karang.
***
Tak lama setahun berselang, ibu yang sejak ayah meninggal begitu terpukul hati dan pikirannya mulai melemah raganya. Tubuhnya yang memang kurus itu semakin tambah kurus saja. Hingga akhirnya ibu mengalami penyakit maag akut, karena jarang sekali makan dan lebih sering melamun memikirkan kepergian ayah untuk selamanya. Hingga suatu hari perut ibu merasakan kesakitan yang sangat dan memintaku untuk mengantar ke rumah sakit. Akupun memboyong tubuh ibu yang begitu kurus itu ke puskesmas terdekat. Dan yang ku dapati bahwa ibu harus segera di operasi untuk pengangkatan bagian ususnya yang mulai membusuk.
Pikiranku melayang, “uang dari mana aku harus mengoperasi ibu?” lirihku didalam hati. Akupun segera pergi kepada abang-abangku yang hanya sebagai kuli bangunan. Aku mengabarkan padanya bahwa maag ibu semakin kronis dan harus segera di opersi.
Tak lama kami bertiga aku, bang bams dan bang adi menghampiri ibu yang berbaring di rumah sakit berserta teteh yang selalu setia menemaninya. Kamipun mulai membujuk ibu untuk bersedia melakukan operasi hari itu juga. Namun, ibu enggan melakukan itu, dia tau kami tidak bisa membayar biaya operasi yang begitu besar. Hingga akhirnya sampai  dimalam harinya aku dan teteh masih setia berada diatas ranjang tidur ibu, mendengarkan semua ceritanya dan sekaligus terus membujuknya agar besok mau untuk diopersi.
Berharap besok masih ada kesempatan
***

lanjutan...



Season #2
Pembicaraaan dimalam itu bersama ibu  padaku dan teteh terasa sangat dekat. Ibu terus menceritakan bahwa dia kelak ingin memiliki rumah impian yang besar yang didalamnya ada ayah, ibu, abang, teteh aku dan juga beberapa anak asuh yatim piatu kami.
Iyah, sejak kepergian ayah ibu memang begitu baik hati, selalu membagi apapun. Makanan atau harta, baik itu sedikit maupun banyak kepada anak-anak yatim yang berada di seberang kampung kami. Ibu berbicara padaku bahwa anak yatim itu merupakan bahan amalan ibu dan ayah didunia yang kelak akan dibayar disyurganya Alloh. Ibu ingin aku, dan teteh dan mewujudkan impian itu. Walaupun sebenarnya, dilubuk hati ibu yang paling dalam. Bahwa rumah yang besar itu Rumah yang indah. Yang  didepannya langsung memilki halaman yang luas dengan pasir putih, hamparan laut yang biru, dengan rimbunnya pohon kelapa dan juga kursi bermain anak-anak yatim yang kami milki. “Disana ada ibu, ayah, kamu, bang bams, bang adi dan teteh” lirihnya pelan
Namun, karena kemiskinan kami yang hanya keluarga nelayan di pesisir pantai pangandaran ini. Kami tidak bisa mewujudkan rumah impian itu. Rumah yang indah yang depannya langsung memilki halaman yang luas dengan pasir putih, hamparan laut yang biru, dengan rimbunnya pohon kelapa dan juga kursi bermain anak-anak yatim yang kami milki. Hanya berusaha dan menunggu keajaiban tangan tuhan yang dapat kami lakukan untuk mengeluarkan keluarga kami dari kemiskinan ini.
Tapi memang begitulah, walaupun kami dalam kemiskinan tetapi berbagi kepada sesama tetap menjadi prioritas hidup kami.
***
Tak lama setelah cerita itu, ibu pun mengantuk dan mulai terpejam matanya untuk tidur. Hingga paginya aku yang sudah menyiapkan bubur untuknya membangungkannya dengan perlahan. Ku  bangunkan ibu dengan nada halus “ Ibu, bangun, ayo ibu harus sarapan dahulu, agar ibunda sembuh”. Namun setelah mencoba lima menit aku membangunkan ibu, tapi raganya tak juga geming dan bangun. Hingga aku pegang pergelangan tangannya yang kurus itu. Tak aku rasakan lagi denyut kehidupan didalam denyut nadinya. Untuk memastikan bahwa aku salah maka, akupun mendekatkan telingaku mencoba mendengar detak jantungnya dan aura nafasnya namun lagi-lagi yang ku dapati adalah datar. Ibu tetap tidak bergeming. Disana, aku menangis untuk yang kedua kalinya dalam hidupku dan mencoba menyangkal dengan keadaan bahwa ibu telah tiada.
“Betapa tuhan tidak adilnya padaku, mengambil sebagian belahan raga ini, yang telah membesarkanku, mendidikku dengan penuh kasih dan sayangnya. Hanya  dia intan yang aku miliki tuhan, selepas kau ambil mutiara hidup ayah dari samping keluarga ini, mengapa begitu cepat engkau ambil mutiara dan intan itu dari dalam kehidupanku tuhan?”
Di ruangan rumah sakit yang sempit itu, aku menjerit dan menangis mendapati lagi-lagi jasad orangtuaku yang terbujur kaku tak dapat berucap lagi.
Teteh, berusaha menenangkanku dan mendekap kepalaku namun yang kudapatkan ini bukanlah pelukkan ibuku yang hangat seperti dahulu. Kehidupanku hancur kala itu. Mimpi yang berusaha aku rajut untuk bisa mempersembahkan gelar sarjanaku pada ibu dan ayah, musnah sudah kala itu juga.
Alan yang tadinya seorang pemuda penuh ambisi dengan keinginan untuk berubah seketika menjadi Alan yang mudah menyerah.
***
 Tak ingin membiarkan adiknya terus ada dalam keterpurukan teteh dan abang-abangku mensihatiku bahwa hidupku harus berubah tidak boleh seperti ini terus. Kata mereka, tongkat estapeta kesuksesan keluargaku ada ditanganku. Aku yang harus mengabulkan keinginan terkahir ibu. Seperti yang pernah beliau utarakan sebelum pergi untuk selamanya.
Kata abang bahwa aku harus mandiri, mampu berdiri sendiri diatas kakiku, menjadi penopang yang kuat untuk diriku sendiri. Maka dari itu, dia akan mengirimku untuk berkualiah di sebuah universitas negeri di bandung, membiayai kuliahku sampai dengan masuk jalur pertama. Selebihnya aku harus berusaha sendiri untuk melanjutkan cita-cita ibu ku yaitu membangun rumah yang besar dan indah untuk keluargaku dan anak-anak yatim asuhan kami.
***
Waktupun bergulir begitu cepat, sudah lima tahun dari kepergian ibu tapi wajah beliau tetap menjadi intan didalam hatiku. Dari berbagai kesempatan yang tuhan berikan kepadaku dari mulai menjadi guru bimbel bahasa inggris TK, SD,SMP, lalu menjadi pedagang roti keliling, lalu siang harinya aku menjadi karyawan fotocopian di unversitasku, lalu pernah juga menjadi penulis artikel di beberapa surat kabar terbitan kota bandung dan dari sanalah aku berniat untuk melatih skill ku dibidang Enterpreuner aku menjadi pemotivasi, lalu aku membuka usaha roti kukus dengan 3 cabang di kampus. Alhamdulilah cukup, bahkan lebih untuk menggaji, dan membiayai hidupku bahkan sebagian dari uang itu aku kirim ke kampung dan aku tabungkan di Bank.
***
Dengan kerja keras yang aku lakukan sejak mulai aku kuliah itu, kini aku yakin bahwa dalam waktu dekat ini rumah impian ibu akan segera tercapai . Aku semakin mantap saja menatap masa depan karena didalam genggamanku sekarang, mimpi ibu telah aku wujudkan, gelar telah berhasil aku raih, pekerjaan didepanku sebagai Pemred Majalah berbahasa Inggris tinggal selangkah lagi dan peluangku sebagai wirausahawan muda Roti Kukus telah mulai terlihat hasilnya.
Kini aku yakin bersama mimpi-mimpiku aku bisa membangun mewujudkan rumah impian ibu dan impian keluargaku.

[Nurlailla kamil]

Thursday, November 22, 2012

Jumat Berkah di awal bulan Muharram


Pernah percaya tentang jumat berkah?apalagi jumat itu bertepatan dengan tahun baru hijriah. Jumat kemarin tepatnya tanggal 02 Muharram, saya mendapatkan berkah yang tidak perah saya kira. Kisah itu berawal ketika pada hari kamis saya pulang kerumah, dan mengetahui tentang bapak saya yang sedikit sedang batuk . Paginya saya semakin sering mendengar bapak batuk . dan itu membuat saya khawatir tentang kedaannya. Sayapun kemudian berpikir untuk membelikan obat batuk yang bagus untuknya. Namun, pikiran saya merasa ragu, karena disisi lain  uang sisa yang saya miliki akan digunakan kembali setelah saya kembali ke bandung. Namun, ada keyakinan lain yang menyuruh saya untuk segera membelikan obat untuk bapak. Karena semakin sering saya mendengar bapak batuk, dan nampaknya itu sangat sakit.
Tak lama saya langsung ke apotek dan membelikan obat batuk yang bagus untuknya. Tanpa tawar menawar dan tanpa banyak memilih saya mendapatkan rekomendasi dari pegawai apotek bahwa harga obat batuk yang bagus itu adalah  Rp. 22000 sekalian juga membelikan bedak untuk ibu saya dengan harga Rp 8000. 
Saya pun langsung memberikan obat batuk itu pada bapak dan menyuruhnya meminum dua sendok makan setiap 3x sehari. Sorenya bapak merasa agak baikan. Saya pun bersyukur bapak sudah sembuh. Tak lama setelah itu, saya mendapat kabar dari kakak bahwa saya mendapatkan uang kiriman sebanyak Rp 300.000 dan yang membuat saya terkejut bahwa sebelumnya saya tidak pernah meminta kiriman uang kepadanya kecuali jika saya meminta langsung. 
Tentu, ini menyenangkan untuk saya, namun disisi lain adalah sebuah kejutan. Dari sana lah saya mulai meyakinkan  diri bahwa ketika saya memilki rejeki baik itu sedikit ataupun banyak saya tidak boleh ragu untuk  membagikannya kepada orang tua saya. Karena pada dasarnya, alloh juga akan membalas kebaikan kita baik itu dengan cepat ataupun lambat.

Nurlailla kamil


Wednesday, October 17, 2012

Ini tentang Mimpi, titik




    Mimpi bagiku adalah sebuah pilihan hidup. Karena  kita sebagai manusia di berikan 1000 pilihan mimpi atau lebih oleh Alloh, dan mimpiku ketika SMA adalah menjadi seorang Jurnalis. Semua itu berawal dari kisah perjuangan hebat pewarta dari Tv One yang diculik oleh Israel M. Yasin, aku merasa mengaguminya, sebagai wartawan dia sangat berani mengambil tugas untuk ditempatkan di Palestina yang pada waktu itu sedang terjadi konflik perang dengan Israel. Dan dia menjadi tawanan tentara Israel karena tertangkap.
        Persepsiku pada waktu itu bahwa, Jurnalis itu HEBAT. Dia yang mempunyai kemampuan untuk mengabarkan kepada dunia luar apa yang sebenarnya terjadi, bukan mengangkat issu yang murah, tapi  mengangkat issu yang real terjadi dalam suatu peristiwa. Dan pada saat itulah, aku tambatkan hatiku untuk menjadi seorang JURNALIS.
Aku yakin bahwa dengan menjadi Jurnlis, aku bisa menjadi bagian dari para pewarta yasin-yasin yang lain. Yang  berani, mengabdi dan mengabarkan kabar yang sebenarnya. Aku tau, setiap langkah yang aku lakukan mempunyai resikonya, dan kuliah sebagai jalan awal tangga –tangga kecilku untuk meraih mimpi sebagai jurnalis. Tepat keluar dari SMA, aku utarakan maksud hati ini kepada Ibunda bahwa aku anakmu ini sebagai perempuan ingin menjadi Seorang pewarta Berita. Aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak seperti perempuan pedesaan lainnya, yang menginginkan bekerja sebagai guru, dan kemudian menjadi PNS. Aku ingin berpetualang mengetahui dunia luar yang terasa asing bagiku, karena aku percaya menjadi jurnalis akan mengantarkanku dengan dunia luar itu.
“Ibu, mungkin nanti aku tidak akan menjadi PNS seperti apa yang selalu kau elu-elukan tentang mereka yang sukses menjadi PNS, aku juga tidak akan menjadi guru perempuan yang rapih dan cantik. Tapi, aku lebih memilih menjadi seorang jurnalis, yang siap menjadi jurnalis di manapun dan kapanpun aku berada, aku juga mungkin akan jauh darimu setelah aku bekerja, tidak seperti layaknya seorang guru yang masih melimpah kesempatannya di kampungku, bolehkan aku memilih ini ibu?”
        Kurang lebih seperti itulah, aku mengutarakan dan menjelaskan mimpiku untuk menjadi seorang jurnalis kepada Ibu, dan aku mendapatkan restunya.  Beliau membebaskan aku untuk memilih impianku memilih jalan hidupku. Dan karena itu juga aku sangat-sangat mencintai ibuku.
    Perjalanankupun terasa ringan, aku percaya itu semua karena doanya. Setelah sekarang ditempa menjadi sosok jurnalis, aku dihadapkan dengan hal-hal baru. Deatline, update, kritis, relasi, wawasan, dan hal-hal lainnya yang itu semua perlu diperhatikan oleh seorang jurnlis. Aku memang baru masuk kedunia ini, catatan-catatan penaku pun belum berlembar-lembar hanya sebatas coretan hasil wawancara dari segelintir orang. Dari berbagai praktek yang aku lakukan itu. Aku  tau, bahwa seorang jurnalis juga akan lebih mengetahui kehidupan masyarakat tidak hanya kaum jetset tapi juga kaum dhuafa,miskin yang kurang beruntung lainnya. Dengan menjadi jurnalis mengharuskan aku siap seperti Bunglon,  tiba-tiba harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan para petinggi, namun disisi lain harus siap untuk empati melihat keadaan masyarakat disisi lainnya.
           Pernah seorang dosen bertutur bahwa dunia bisa dirubah hanya dengan tulisan, tak perlu orasi, tak perlu retorika dunia ini bisa dirubah hanya dengan pena dan pemikiran kita. Dan aku percaya bahwa memang benar, dengan tulisan para ahli ilmu islam seperti avicena yang tulisannya dijadikan pedoman ilmu kedokteran Eropa.
Apapun yang terjadi sekarang dan nanti ini tentang impianku, dan aku tidak menyesal jika suatu hari nanti aku menjadi jurnalis. Nurlailla kamil